Rabu, 10 Juli 2013

Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.


Ambarawa awalnya merupakan sebuah kota militer pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Raja Willem I memerintahkan untuk membangun stasiun kereta api baru yang memungkinkan pemerintah untuk mengangkut tentaranya ke Semarang. Pada 21 Mei 1873, stasiun kereta api Ambarawa dibangun di atas tanah 127.500 m². Pada awalnya dikenal sebagai Stasiun Willem I.[2]
Willem I Stasiun Kereta Api awalnya titik pengangkutan antara 8 ½ 4ft di (1435 mm) cabang rel dari Kedungjati di timur laut dan 3ft 6in (1067 mm) baris rel selanjutnya menuju Yogyakarta melalui Magelang dari arah selatan. Hal ini masih bisa terlihat bahwa kedua sisinya dibangun stasiun kereta api untuk mengakomodasi ukuran yang berbeda.[3]
Museum kereta api Ambarawa kemudian didirikan pada tanggal 6 Oktober 1976 di Stasiun Ambarawa untuk melestarikan lokomotif uap yang kemudian datang ke akhir masa pemanfaatan kembali ketika 3ft 6in (1067 mm) jalur rel kereta api dari Perusahaan Negara Kereta Api ditutup. Ini merupakan museum terbuka yang terdapat di samping stasiun asli.[3]


Museum ini melayani kereta wisata Ambarawa-Bedono pp, Ambarawa-Tuntang pp dan lori wisata Ambarawa-Tuntang pp. Kereta wisata Ambarawa-Bedono pp atau lebih dikenal Ambarawa Railway Mountain Tour ini beroperasi dari Museum ini menuju Stasiun Bedono yang jaraknya 35 KM dan ditempuh 1 jam untuk sampai stasiun itu. Kereta ini melewati rel bergerigi yang hanya ada di sini dan di Sawahlunto. Panorama keindahan alam seperti lembah yang hijau antara Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu dapat disaksikan sepanjang perjalanan.
Pemandangan yang dapat dinikmati dari kereta dan lori Ambarawa-Tuntang pun tak kalah bagusnya. Kereta ini berangkat dari stasiun menuju Stasiun Tuntang yang berada sekitar 7 km dari museum. Di sepanjang jalan dapat dilihat lanskap menawan berupa sawah dan ladang dengan latar belakang Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Rawa Pening di kejauhan. Kereta ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, tetapi ditutup pada 1980-an karena prasarana yang rusak.
Harga karcis kereta wisata adalah Rp50.000 per orang, sedangkan lori Rp10.000 per orang. Harga sewa kereta Rp3.000.000
Museum mengoleksi 21 lokomotif uap. Saat ini terdapat 3 lokomotif yang dapat dioperasikan. Koleksi yang lain dari museum adalah telepon antik, peralatan telegram morse, bel antik dan beberapa perabotan antik.[3]

Lokomotif Uap B2502, salah satu dari dua lokomotif yang masih aktif dan merupakan salah satu di antara tiga yang tersisa di dunia.

Lokomotif Uap C1507 yang dipajang didepan Museum.

Lokomotif B5112 sedang menjalani test run Ambarawa-Tuntang pp.
Beberapa lokomotif uap adalah 2 B25 B2502 0-4-2T / 3, yang dari armada asli dari 5 dipasok ke garis sekitar 100 tahun yang lalu (lokomotif ketiga (B2501) disimpan di sebuah taman di kota terdekat) E10 yang E1060 0-10-0T yang semula dikirimkan ke Sumatera Barat pada tahun 1960 untuk bekerja di kereta api batubara, tetapi kemudian dibawa ke Jawa, dan sebuah lokomotif konvensional 2-6-0T C1218 yang dikembalikan untuk dapat digunakan kembali pada tahun 2006. Namun,lokomotif E1060 dibawa ke Sawahlunto sedangkan lokomotif C1218 dibawa ke Surakarta dijadikan kereta wisata Jaladara. Baru-baru ini museum ini dapat lokomotif diesel hidrolik D300 23 yang berasal dari dipo lokomotif Cepu yang dipindah ke dipo lokomotif Ambarawa pada 6 Oktober 2010. Lokomotif uap B 5112 yang buatan pabrik Hanomag, saat ini sedang menjalani test run di sekitar museum setelah 30 tahun mati. Saat ini museum ini mempunyai koleksi baru seperti Kereta Kayu CR Madura, Kereta Kayu Magelang, NR Kayu Balai Yasa Yogyakarta dan lain-lain. Direncanakan museum ini akan datang berberapa koleksi baru seperti D52099 yang berada di Taman Mini Indonesia Indah dan C2902 yang berada di Perhutani Cepu.










Kereta Tawang Jaya

Tawang jaya adalah nama kereta api kelas ekonomi unggulan yang di operasikan PT KAI dengan relasi Semarang Poncol dan Jakarta, Pasarsenen. Tawang jaya di berangkatkan dari Semarang Poncol pukul 19.00 dan di berangkat dari Jakarta Pasarsenen pukul 20.30. Sejak lebaran 2012, kereta ini diganti dari kelas ekonomi menjadi kereta ekonomi ac. Stasiun yang disinggahi:

Ungaran, Ibukota dari Kabupaten Semarang

Alun Alun Bung Karno, Terletak di Kelurahan Kalirejo 
Kecamatan Ungaran Timur atau Sebelah Exit Tol Ungaran Belok Ke Arah Kanan 






Ungaran adalah ibu kota Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota yang terletak tepat di sebelah selatan Kota Semarang. Wilayah perkotaan Ungaran meliputi Kecamatan Ungaran Barat dan Ungaran Timur. Sebagian wilayah Kota, merupakan daerah padat penduduk yaitu di sekitar sepanjang jalan protokol Jalan Jend. Gatot Subroto, Jalan Jend. Sudirman, Jalan Diponegoro, dan Jalan Ahmad Yani.
Saat ini Jalan Ahmad Yani menjadi pusat aktivitas warga Ungaran sekitarnya. Di jalan ini terdapat rumah dinas Bupati Semarang yang di depannya terdapat sebuah lapangan yang biasa disebut Alun-alun Mini (Untuk membedakan dengan Alun-alun Ungaran yang terdapat di Jalan Pemuda) yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan umum. Pada hari-hari tertentu, terutama di akhir pekan, tempat ini sangat ramai dan banyak pedagang kaki lima. Selain itu tempat ini juga menjadi pusat perdagangan karena di sepanjang jalan juga terdapat banyak toko dan rumah makan. Jalan ini mendapat julukan jalan "asmara" dikarenakan dahulu sebelum terdapat rumah dinas Bupati Semarang, jalan ini hanya jalan alternatif yang kondisinya masih sepi dan masih terdapat banyak pohon. Pada malam hari kondisi jalan menjadi gelap, dan menjadi tempat favorit para muda-mudi untuk berpacaran. Karena hal tersebut jalan ini lebih terkenal sebagai tempat memadu kasih, dan disebut jalan "asmara".
Ungaran dikenal sebagai Kota Seribu Rumah Makan. Hal ini disebabkan karena Ungaran merupakan jalur utama untuk kendaraan dari Semarang yang akan menuju Solo dan Yogyakarta, sehingga di sepanjang jalan banyak terdapat rumah makan bagi para penumpang kendaraan. Salah satu makanan khas Ungaran adalah sate sapi "Pak Kempleng". Konon semua penjual sate sapi di Ungaran mengaku "keturunan" Pak Kempleng yang memopulerkan sate sapi pada tahun 1960-an sampai 1970-an. Selain itu makanan khas Ungaran lainnya adalah Tahu Bakso yang banyak dijual di toko cenderamata di sepanjang jalan utama.
Kota Ungaran memiliki peninggalan berupa gedung-gedung, misalnya Gedung Kuning dan Benteng Diponegoro. Selain itu di kota ini juga terdapat makam Gatot Soebroto yang terletak di Kelurahan Sidomulyo, Ungaran Timur. Kota ini juga merupakan sentra industri skala besar dan menengah. Di sepanjang jalan utama banyak terdapat pabrik besar seperti Ungaran Sari Garment, Pepsi, Nissin, Batamtex, dll.
Di Ungaran juga terdapat batik khas dengan nama motif Kopi Pecah. Terdapat ruang pamer Batik Classic Pramoedya di Jalan M.T. Haryono.
Di daerah Ungaran Barat terdapat Kolam Renang Alami yang sudah cukup terkenal di kalangan Ungaraners, yaitu Siwarak.
Tidak jauh dari Ungaran, terdapat sebuah tempat wisata menarik bernama Bandungan. Bandungan terletak di lereng Gunung Ungaran. Saat ini terdapat wahana outbond yang sangat menantang bernama Umbul Sidomukti yang memiliki Flying Fox tertinggi di Indonesia setinggi 70 m.